- Made Bhela -
All rihgt, setelah membaca kutipin ini saya merasa lebih tenang dan nyaman. Bang sayang ijin modifikasi kutipannya ya, Sesuai dengan intensitas saya dan terpacul pemikiran untuk merubahnya menjadi seperti ini :
Nilai Standart, hobi tersalurkan, punya banyak teman dan jomblo-jomblo bahagia.
Itu kolaborasi yang terbaik dan terindah
- Jief Fujie -
Jika ditanyakan mengapa saya mengganti kalimat nilai tinggi dan tidak jomblo diatas menjadi nilai standart dan jomblo jomblo bahagia, terlalu banyak alasan yang tidak bisa saya jelaskan satu persatu, tapi intinya seperti ini
Nilai tinggi ---> Nilai standart
Saya yang notabenenya merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota pelajar Yogyakarta sempat merasa berdosa karena mengambil jurusan ilmu gizi, entah mengapa kog dulu saya bisa nyasar ke jurusan ini (tanyakan pada diri sendiri, fujie).
oke sip tidak ada lagi penyesalan adanya pembelajaran.
Sejatinya, teman teman satu angkatan pun tau bahwa Fujie kamu itu ga cocok kuliyah di kesehatan cocoknya ambil komunikasi atau seni. Entah hal apa yang mereka fikirkan tentang saya dan siapa saya, kog bisa bisanya mereka berargumen seperti itu :)
Karena merasa salah pada diri sendiri, ketika masuk di semester 3 saya lebih menyibukkan diri untuk ikut di oraganisasi kemahasiswaan yang di bilang lumayan bergengsi, yaitu BEM menjabat sebagai Dirjen Informasi dan Komunikasi. Selain ikut oraganisasi saya juga sempat sibuk di dunia Fotografer, saya cukup senang dengan hal hal yang berbau jepret menjepret, penasaran sama camera DSLR gimana sih tekhnik penggunaanya, dan akhirnya sedikit bisa walaupun ga pinter pinter banget.
Pada semester itu saya merasakan nikmatnya menjadi seorang mahasiswa, dimana kita bisa meng expresikan diri sesuka hati tanpa ada larangan dari pihak manapun. Mungkin karena faktor kesibukan di dunia internal dan external menjadikan saya mahasiswa yang tidak terlalu mengejar nilai akademik kampus. Saya berfikir bahwa bagaimana caranya agar saya bisa belajar dengan pengalaman pengalaman baru sesuai dengan hobi saya. Maka sangat tidak diherankan jika nilai IPK jadi menurun drastis (mirisss)
Berlanjut ke semester 6 dengan kekehnya saya menyibukkan diri di dunia organisasi kampus dan pada waktu itu sempat di berikan kepercayaan kepada Pak Presiden BEM untuk menjadi Sekretaris BEM tingkat Universitas. Tapi semangat saya tidak seextrim seperti di semester 4, mungkin karena mulai fokus ke ujian proposal skripsi dan praktek gizi klinik di RSUD. Timbul rasa tidak enak kepada teman teman satu organisasi (maafkan saya pak pressss) bukannya lari dari tanggung jawab sebagai activis kampus tapi tanggung jawab saya sebagai mahasiswa gizi sedang menangis minta di perhatikan, hikss..
Hari demi waktu berlari dan saya mencoba untuk tetap berdiri tegar, menuntaskan sisa sisa tanggung jawab dalam rangka meraih sarjana gizi, memang agak rumit tapi saya yakin bahwa setiap pengorbanan pasti menjanjikan harapan.
Hingga akhirnya tibalah di semester 8 dan semua yang terlewati terasa begitu cepat.
Menjadi seorang mahasiswa memang nikmat nikmat sedih. Sedihnya itu ketika uang bulanan defisit otomatis status gizi menjadi tidak nornal, hehe
Saya berfikir bahwa ketika kita diberikan kepercayaan oleh kedua orang tua untuk pergi mengemis ilmu di dunia perantauan ada baiknya kita tidak menyia nyiakan waktu dikost kostan hanya untuk duduk manis menonton TV atau menggalau ria di media sosial. Banyak peluang di dunia luar yang mempu menjadikan kita pribadi kreatif dari yang tidak tau apa apa menjadi ada apa apanya. LOH (maaf sedikit bercanda),,hehe
Pergilah ketempat tempat yang kau anggap banyak tersimpan gudang gudang inspirasi disana, bermainlah dan lihatlah disekelilingnya..
Bergabunglah dengan mereka mereka yang kau anggap kreatif dan unik, jangan malu, jangan minder.
Saya yakin kau juga pantas mendapatkan penghargaan itu.
Semua terlahir dari hukum sebab akibat, jika kau malu maka kau akan hidup didunia Kering Ilmu
Jika kau hanya berdiam diri, maka kau akan tetap jalan ditempat.
Pandang duniamu, wujudkan mimpimu, expresikan dan kreasikan maka kau akan terlahir dengan wujub unik yang disenangi banyak orang.
Percaya ?
Selamat mencoba, lalu buktikan !!!
Writter by :
oke sip tidak ada lagi penyesalan adanya pembelajaran.
Sejatinya, teman teman satu angkatan pun tau bahwa Fujie kamu itu ga cocok kuliyah di kesehatan cocoknya ambil komunikasi atau seni. Entah hal apa yang mereka fikirkan tentang saya dan siapa saya, kog bisa bisanya mereka berargumen seperti itu :)
Karena merasa salah pada diri sendiri, ketika masuk di semester 3 saya lebih menyibukkan diri untuk ikut di oraganisasi kemahasiswaan yang di bilang lumayan bergengsi, yaitu BEM menjabat sebagai Dirjen Informasi dan Komunikasi. Selain ikut oraganisasi saya juga sempat sibuk di dunia Fotografer, saya cukup senang dengan hal hal yang berbau jepret menjepret, penasaran sama camera DSLR gimana sih tekhnik penggunaanya, dan akhirnya sedikit bisa walaupun ga pinter pinter banget.
Pada semester itu saya merasakan nikmatnya menjadi seorang mahasiswa, dimana kita bisa meng expresikan diri sesuka hati tanpa ada larangan dari pihak manapun. Mungkin karena faktor kesibukan di dunia internal dan external menjadikan saya mahasiswa yang tidak terlalu mengejar nilai akademik kampus. Saya berfikir bahwa bagaimana caranya agar saya bisa belajar dengan pengalaman pengalaman baru sesuai dengan hobi saya. Maka sangat tidak diherankan jika nilai IPK jadi menurun drastis (mirisss)
Berlanjut ke semester 6 dengan kekehnya saya menyibukkan diri di dunia organisasi kampus dan pada waktu itu sempat di berikan kepercayaan kepada Pak Presiden BEM untuk menjadi Sekretaris BEM tingkat Universitas. Tapi semangat saya tidak seextrim seperti di semester 4, mungkin karena mulai fokus ke ujian proposal skripsi dan praktek gizi klinik di RSUD. Timbul rasa tidak enak kepada teman teman satu organisasi (maafkan saya pak pressss) bukannya lari dari tanggung jawab sebagai activis kampus tapi tanggung jawab saya sebagai mahasiswa gizi sedang menangis minta di perhatikan, hikss..
Hari demi waktu berlari dan saya mencoba untuk tetap berdiri tegar, menuntaskan sisa sisa tanggung jawab dalam rangka meraih sarjana gizi, memang agak rumit tapi saya yakin bahwa setiap pengorbanan pasti menjanjikan harapan.
Hingga akhirnya tibalah di semester 8 dan semua yang terlewati terasa begitu cepat.
Menjadi seorang mahasiswa memang nikmat nikmat sedih. Sedihnya itu ketika uang bulanan defisit otomatis status gizi menjadi tidak nornal, hehe
Saya berfikir bahwa ketika kita diberikan kepercayaan oleh kedua orang tua untuk pergi mengemis ilmu di dunia perantauan ada baiknya kita tidak menyia nyiakan waktu dikost kostan hanya untuk duduk manis menonton TV atau menggalau ria di media sosial. Banyak peluang di dunia luar yang mempu menjadikan kita pribadi kreatif dari yang tidak tau apa apa menjadi ada apa apanya. LOH (maaf sedikit bercanda),,hehe
Pergilah ketempat tempat yang kau anggap banyak tersimpan gudang gudang inspirasi disana, bermainlah dan lihatlah disekelilingnya..
Bergabunglah dengan mereka mereka yang kau anggap kreatif dan unik, jangan malu, jangan minder.
Saya yakin kau juga pantas mendapatkan penghargaan itu.
Semua terlahir dari hukum sebab akibat, jika kau malu maka kau akan hidup didunia Kering Ilmu
Jika kau hanya berdiam diri, maka kau akan tetap jalan ditempat.
Pandang duniamu, wujudkan mimpimu, expresikan dan kreasikan maka kau akan terlahir dengan wujub unik yang disenangi banyak orang.
Percaya ?
Selamat mencoba, lalu buktikan !!!
Writter by :
- Jief Fujie -
19-04-2013
03.00 WIB
Magelhans



