twitter


UNTUKMU KENJI, YANG NAMANYA SERING KU SEBUTKAN DIAM DIAM DALAM DOA 


Pertemuan kita unik, Kenji !

Pelabuhan rute jalan jalan soreku setiap minggu, UGD tempat kesedihan di bulan Februari, dan Kuburan tempat peristirahatan terakhir Fuangku. Tempat-tempat itu akan menjadi sejarah klasik perjalanan cinta kita. Ya, semoga.
Dalam hal ini aku menyimpulkan sendiri bahwa terkadang tidak semua kuburan itu memberi kesan sedih, adakalanya justru menguburkanmu ke hal hal menuju kejutan dan kebahagiaan. Kebahagian yang diciptakan Tuhan sungguh unik, Subhanallah, itu yang aku rasakan.



Tentang Kita, yang merasa cinta ini Natural

Kita, tak sedikitpun merasa kesulitan untuk beradaptasi. Sekalipun awalnya kita adalah 2 orang yang tak saling kenal, kita bisa “nyambung” lantaran punya banyak kesamaan. Soal musik, hoby jalan jalan, cita-cita, prinsip hidup; berbagai hal yang kadang membuat kita jemawa – merasa jadi pasangan paling cocok sedunia.

Aku paling suka mencerapi kenangan. Mengingat betapa dulu kita tak sedikitpun berusaha jual mahal untuk bertukar nomor telepon, saling sapa  dan merencanakan pertemuan. Semua terjadi begitu cepat, mengalir apa adanya tanpa harus dibuat-buat. 
Sesungguhnya aku tak sabar ingin segera bisa mengajakmu jalan-jalan. Kita memang bukan pasangan yang gila pada kencan romantis di kafe yang harganya membuat pupil mata membesar.
Kita harus lebih dulu mengenal Indonesia. Demi bisa mengenalkannya ke anak-anak kita”.
Terima kasih telah mempersiapkan dirimu untuk menyambutku. Kau mengorbankan waktu tidurmu, merelakan indahnya masa mudamu demi bisa lebih siap menjemput masa depan bersamaku. Saat teman-temanmu kecanduan main DoTA, kau justru begadang demi berbagi cerita denganku, menceritakan planing masa depan kita.


BERSAMAMU,
Bersamamu kutemukan pendampingan yang membebaskan. Kadang tak habis pikir, kenapa aku yang banyak kurang bisa begini mudah mendapat keberuntungan?
Diluar sana masih banyak yang lebih cantik dibanding aku. Mereka yang lebih lihai memadankan baju, cerdik memulaskan pewarna di muka tanpa harus canggung dihadapmu. Tapi kau menganggap semua aksesori itu tak perlu.
Maafkan aku yang belum juga pintar memasak, kenji.
Saat aku sedang keras kepala – peluk aku dan ingatkan — mau tak mau salah satu dari kita harus diam. Cinta bukan kompetisi yang perlu menghitung poin menang-kalah. Waktu kau lelah menghadapi egoismeku, bicaralah. Calon istrimu ini tak pandai membaca kode tanpa arah. Di titik kau tak mampu lagi dan ingin pergi, ingat kembali. Tuhan tak mungkin mempersatukan kita dengan suci hanya untuk semudah itu diakhiri.
Maukah kau jadi kawan terbaikku membangun masa depan? Jadi orang yang aroma badannya kuhirup saban malam. Pria yang namanya tak pernah alpa kusebut di tiap sujud dan tangkupan tangan.
Kita akan memulai segalanya dari nol. Barangkali kau dan aku tak akan langsung hidup nyaman. Rumah kontrakan sederhana juga sudah cukup membahagiakan.
Sudikah kamu jadi Bapak dari anak-anakku? Mereka yang akan kita dewasakan bersama. Nyawa-nyawa baru yang akan kita biasakan untuk rajin membaca. Tak mengalah pada kuasa tablet digital yang membuat mereka kian tak peka.
Akankah kau mengijinkanku jadi wanita yang memiliki nama belakangmu? Menjadi pribadi terhormat yang mengandung anak dari benihmu.
Maukah kau menghabiskan masa denganku? Dengan rendah hati menerima segala kurang dan lebihku, mengingatkanku untuk lebih bersabar setiap nada suaraku mulai meninggi karena kesal. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, selain akan lebih berusaha untuk jadi wanita yang membahagiakanmu dalam berbagai masa.
Kita akan menua bersama,ditemani tawa dan kerut yang makin nyata.
Berjanjilah, tak peduli  nanti kita akan berselisih paham; kekurangan uang; anak-anak kita berulah dan menyusahkan — kau dan aku akan kembali saling menatap untuk menemukan keyakinan :selama masih bersama kita akan tetap baik-baik saja.


Untukmu Kenji terima kasih, kehadiranmu mengubah warna hariku !


0 komentar: