UNTUKMU KENJI, YANG NAMANYA SERING KU
SEBUTKAN DIAM DIAM DALAM DOA
Pertemuan kita unik, Kenji !
Dalam hal ini aku menyimpulkan sendiri bahwa
terkadang tidak semua kuburan itu memberi kesan sedih, adakalanya justru menguburkanmu
ke hal hal menuju kejutan dan kebahagiaan. Kebahagian yang diciptakan Tuhan sungguh unik,
Subhanallah, itu yang aku rasakan.
Tentang Kita, yang merasa cinta ini Natural
Kita, tak sedikitpun merasa kesulitan untuk
beradaptasi. Sekalipun awalnya kita adalah 2 orang yang tak saling kenal, kita
bisa “nyambung” lantaran punya banyak kesamaan. Soal musik, hoby jalan jalan,
cita-cita, prinsip hidup; berbagai hal yang kadang membuat kita jemawa – merasa
jadi pasangan paling cocok sedunia.
Aku paling suka mencerapi kenangan. Mengingat
betapa dulu kita tak sedikitpun berusaha jual mahal untuk bertukar nomor
telepon, saling sapa dan merencanakan pertemuan. Semua terjadi begitu
cepat, mengalir apa adanya tanpa harus dibuat-buat.
Sesungguhnya aku tak sabar ingin segera bisa
mengajakmu jalan-jalan. Kita memang bukan pasangan yang gila pada kencan
romantis di kafe yang harganya
membuat pupil mata membesar.
Kita harus lebih dulu mengenal Indonesia. Demi bisa
mengenalkannya ke anak-anak kita”.
Terima kasih telah mempersiapkan dirimu untuk
menyambutku. Kau mengorbankan waktu tidurmu, merelakan indahnya masa mudamu
demi bisa lebih siap menjemput masa depan bersamaku. Saat teman-temanmu
kecanduan main DoTA, kau justru begadang demi berbagi cerita denganku, menceritakan planing masa depan kita.
BERSAMAMU,
Bersamamu kutemukan pendampingan yang
membebaskan. Kadang tak habis pikir, kenapa aku yang banyak kurang bisa begini
mudah mendapat keberuntungan?
Diluar sana masih banyak yang lebih cantik
dibanding aku. Mereka yang lebih lihai memadankan baju, cerdik memulaskan
pewarna di muka tanpa harus canggung dihadapmu. Tapi kau menganggap semua
aksesori itu tak perlu.
Maafkan aku yang belum juga pintar memasak,
kenji.
Saat aku sedang keras kepala – peluk
aku dan ingatkan — mau tak mau salah satu dari kita harus
diam. Cinta bukan kompetisi yang perlu menghitung poin menang-kalah. Waktu kau
lelah menghadapi egoismeku, bicaralah. Calon istrimu ini tak pandai membaca
kode tanpa arah. Di titik kau tak mampu lagi dan ingin pergi, ingat kembali.
Tuhan tak mungkin mempersatukan kita dengan suci hanya untuk semudah itu
diakhiri.
Maukah kau jadi kawan terbaikku
membangun masa depan? Jadi orang yang aroma badannya kuhirup saban malam. Pria
yang namanya tak pernah alpa kusebut di tiap sujud dan tangkupan tangan.
Kita akan memulai segalanya dari nol.
Barangkali kau dan aku tak akan langsung hidup nyaman. Rumah kontrakan
sederhana juga sudah cukup membahagiakan.
Sudikah kamu jadi Bapak dari anak-anakku?
Mereka yang akan kita dewasakan bersama. Nyawa-nyawa baru yang akan kita
biasakan untuk rajin membaca. Tak mengalah pada kuasa tablet digital yang
membuat mereka kian tak peka.
Akankah kau mengijinkanku jadi wanita yang
memiliki nama belakangmu? Menjadi pribadi terhormat yang mengandung anak dari
benihmu.
Maukah
kau menghabiskan masa denganku? Dengan rendah hati menerima segala kurang dan
lebihku, mengingatkanku untuk lebih bersabar setiap nada suaraku mulai meninggi
karena kesal. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, selain akan lebih berusaha
untuk jadi wanita yang membahagiakanmu dalam berbagai masa.
Kita
akan menua bersama,ditemani tawa dan kerut yang makin nyata.
Berjanjilah, tak
peduli nanti kita akan berselisih paham; kekurangan uang; anak-anak kita
berulah dan menyusahkan — kau dan aku akan kembali saling menatap untuk
menemukan keyakinan :selama masih bersama kita akan tetap baik-baik saja.
Untukmu
Kenji terima kasih, kehadiranmu mengubah warna hariku !


